Upaya
menghadirkan negara melalui pendidikan di kawasan (3T) terdepan, terluar dan
tertinggal, tidak hanya di lakukan
pemerintah dengan menugaskan pendidik dan membangun sekolah digaris terdepan
negeri ini. Namun, juga perlunya
ditunjang dengan penyediaan akses teknologi informasi dan komunikasi yang
menjadi bagian dari pemenuhan hak dasar setiap orang atas informasi. Sebagai
upaya menaikkan citra gebrakan ini cukup
sukses, namun bila tujuanya adalah untuk menjadi solusi bagi persoalan
pendidikan didaerah 3T, maka tujuanya itu akan sulit tercapai karena kebijakan
ini tidak rasional.
Paling
tidak ada tiga hal yang menjadi dasar mengapa program ini tidak rasional;
pertama yang dikirim melalui program ini adalah para sarjana yang nol
pengalaman. Kedua, mereka diimport dari
luar wilayah 3T, dimana mereka belum mengenal konsisi budaya dan sosial yang
akan mereka tempati dan ketiga tidak ada jaminan bahwa sekolah akan mendapatkan
guru pengganti dalam jumlah dan mata pelajaran yang sama.
Berbagai
masalah yang dihadapi para guru yang
mengajar di daerah-daerah terdepan ,
terluar dan tertinggal di Indonesia, seperti minimnya fasilitas pendidikan,
jumlah dan jenis buku pelajaran yang tidak mencukupi, keberadaan laboratorium
dan perpustakaan sangat langkah. Selain itu listrik dan alat komunikasi sangat
terbatas atau bahkan tidak tersedia.
Pertaruhan
nyawa juga kerap menjadi momok dan masalah guru di 3T, ancaman keamaan dan
keselamatan dari gangguan para separtais bagi yang bertugas kayak di pegunungan
Papua dan ancaman saat naik kendaraan seperti perahu kecil serta mobil
menyelusuri laut dan hutan belantara untuk sampai di tempat tugas, semua di lakuan para guru dengan satu
tujuan dan niat mulia demi mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mereka rela berkorban jiwa dan tenaga demi
menjalankan tugas mulia ini masuk kelas tepat waktu
Efektivitas
dari keberadaan guru yang secara fisik hadir di sekolah – sekolah, sepertinya
bukan merupakan tujuan yang ingin dicapai. Bila menyimak dari berbagai hasil
penelitian, masalah yang dihadapi oleh
daerah daerah terpencil ini adalah tidak tersedianya proses belajar dan
mengejar yang berkualitas. Memang salah satu penyebab kualitas yang rendah itu
adalah kekurangan tenaga guru..
Tapi
kadang guru yang mengajar di daerah 3T kebanyakan lebih lama di kota ketimbang
di desa kadangkala kalau keenakan dikota guru tersebut lupa untuk pulang dan
mengejar dan kebanyakan hal tersebut
dilakukan oleh guru yang sudah PNS dan
menyerahkan semua tugas mengajar kepada guru baru bahkan honorer dengan
angggapan bahwa untuk menmabah jam terbang mengajar.
Secara
kuantitatif murid yang belajar di sekolah dapat di hitung jari dan biasanya
dilakukan penggabungan kelas demi menutupi kurangnya minat guru yang mau
mengabdi di wilayah 3T, ini sangat berpengaruh terhadap proses interaksi antara
guru dan murid yang kurang efektif. Menyangkut daya serap murid terhadap mata
pelajaran yang sangat variatif tentu menambah tenaga dan pikiran guru untuk
mengolah dan menyelaraskan agar semua dapat seimbang karena perlu metode dan
model yang tepat, karena tidak semua murid dapat menangkap pelajaran dengan
cepat karena beberapa memiliki daya serap rendah.
Peran
Orang tua juga sangat berpengaruh besar terhadap suksenya prosses transfer ilmu
karena anak – anak di daerah pedalaman biasanya sangat respek kepada orang tua,
guru perlu melakukan komunikasi kepada orang tua atau pemuka adat dengan
memberikan sosialisasi tentang kesadaran pentingnya pendidikan agar orang tua dapat mendorong dan
memotivasi anaknya agar Tetap bersekolah, karena biasanya ada doktrinisasi dari
orang tua di daerah yang melarang anaknya
bersekolah dan lebih menyarangkan membantu orang tua di ladang atau di sawah.
Penyelarasan
kurikulum antara pulau jawa dan luar jawa mungkin sangat mustahil di lakukan di
tengah minimnya akses informasi dan komunikasi
begitupun lainya ini menjadi tantangan besar bagi para guru atau yang biasa saya bahasakan
pahlawan tanpa pamrih yang mengajar di
daerah 3T, perlunya inovasi, keterampilan dan kreatifitas guru untuk mengubah
segala kekurangan dan keterbatasan menjadi kekuatan karena kalau mengharapkan
pemerintah mungkin butuh waktu yang sangat panajang itupun kalau anggaran APBN
yang 20% untuk pendidikan terbagi secara
merata dan tidak di potong oleh mafia – mafia birokrasi.
Hal
yang paling dasar dan utama yang perlu dilakukan melihat nestapa dan tantangan
yang di hadapi ‘’para pahlawan tanpa tanda jasa’’ kita adalah pemerintah harus
hadir dan melihat berbagai problematika di lapangan dengan turun langsung bukan hanya memberi berbagai
alternatif dan solusi di kertas semata dan tanpa followup yang jelas, akses
informasi dan komunikasi, sarana dan prasarana yang patut di perhatikan sebagai
wadah dan media penyokong bagi para guru untuk melakukan tugasnya dan tentunya
kesejahteraan guru merupakan hal yang wajib di lakaukan demi terciptanya proses
belajar mengajar yang efektif.
Comments
Post a Comment