Begadang
,begadang boleh saja asal ada gunanya, lirik lagu raja dangdut era tahun 70- 80
an masih membekas dipikiran manusia Indonesia. Siapa yang tidak istilah begadang
,pastinya umat manusia dalam keseharian aktivitasnya begitu familiar dengan istilah ini.
Tentunya beragam aktivita di abad postmodernism menyebabkan manusia lebih cenderung
menggunakan waktu menjadi dinamis dan fleksibel. Keseharian kita yang mungkin biasanya
terforsir dengan rutinitas panjang dibalut dengan suasana emosi tentu menguras tenaga
dan pikiran. Istilah begadang mungkin muncul ketika seseorang terjaga tidak tidur
sampai larut malam. Lazim kita ketahui manusia idealnya membutuhkan sekitar 8
jam untuk tidur .Dilewat batas itu misal jam tidurnya missal cuma 5 jam
tentunya berdampak langsung kepada tubuh entah itu tubuh atau psikis seseorang.
Contoh konkrit saja kurang fokus, mata panda, lesu daya tahan tubuh menurun, dan
penyakit kronis lainnya bermunculan.
Berbagai
alasan tentu ditimpali untuk memaklumi alasan
begadang, mulai dari insomnia ,kerja malam, lembur, kerja tugas ,jet lag (mabuk pesawat) sampai hal – hal
kurang bermamfaat seperti bermain game, nonton bola dll. Alasan seperti ini mungkin
bagi warga di pedesaan tentu menjadi tabu dan kurang lazim, namun bagi masyarakat
perkotaan yang penuh dengan dinamika menuntut manusia manusia kota untuk berbuat
di luar kelaziman pada umumnya. Tak heran kita melihat di pinggir jalan kita melihat
secara kasat mata warkop buka sampai larut malam bahkan hingga pagi hanya untuk
memenuhi nafsu menonton sepakbola dunia bareng .Fenomena ini menjadi seperti budaya
yang sudah mengakar kuatdan menjadi wajar saja bila misal pejabat negara yang
terkadang terexpose di media terlihat terkantuk dalam mengikuti suatu rapat menjadi
guyonan tersendiri bagi masyarakat. Harga sebuah jam tidur menjadi sangat mahal
bagi mereka penikmat aroma petang.
Siapa
pun tidak bisa disalahkan dalam hal ini. Melihat antusiasme para generasi muda menggelorakan
masa mudanya ,mudah saja kita melihat kita melihat mereka bercanda disudut jalan
diiringi suara gitar dengan kumpulan kulit kacang yang berserakan di jalan. Pola
tidur yang berubah menyebabkan generasi muda kita terkesan menjadi malas
,bangun kesiangan dan semangat untuk bekerja dan belajar menurun ,sangat lah miris
melihat calon penerus tongkat estafet bangsa. Negara Indonesia tentunyan masih paham
betul dengan ajaran nenek kita zaman dahulu, maaf dalam hal ini masyarakat muslim
tentunya bangun shalat subuh, kemudian lanjut bekerja . Karena anekdot orang
tua kita mengatakan bangun pagilah agar rezeki kita tidak di patok ayam.
Ketakutan
mendasar terjadi ketika masyarakat kota sudah kehilangan esensi dari diri mereka
sendiri sehingga begadang hingga mereka di cap dalang pergeseran budaya tersebut.
Tanpa menafikan kondisi di pedesaan ,walau ada profesi tertentu yang
membutuhkan jam tidur sedikit misalkan saja pergi melaut .Tetapi jelas dalam hal
ini ada perbedaan tujuan ,mungkin mereka begadang karena kebutuhan perut dan dapur
tetap mengepul. Kontras dengan dengan kehidupan kota yang bekerja lembur agar
mendapat pencapaian aktualisasi yang lebih tinggi ,tidak hanya sekedar untuk tujuan
perut belaka, namun bekerja lembur agar promosi jabatan ,maupun pencapaian tunjangan
yang lebih besar lagi sehingga jam tidur jadi korbannya.
Bagi
sebagian masyarakat kaum urban, tuntutan bisnis mempengaruhi pusat – pusat toko
kadang membuka toko hingga 24 jam sehari, 7 hari seminggu tak cukup. Tengok
saja pusat perbelanjaan dan fotokopi didekat rumah tetap ramai dikunjungi
customer sampai subuh. Saat ini lebih banyak saluran televisi dan sebagian
siaran 24 jam. Belum lagi layanan perbankan, provider jaringan seluler, layanan
antar cepat saji, hingga reservasi penerbangan yang membuka layanan penerbangan
membuka layanan pelanggan lewat saluran telepon 24 jam. Kesemuanya ini
menciptakan pertanyaan apakah tempat- tempat itu yang menciptakan kehidupan
larut malam ini? Ataukah kehidupan kehidupan urban yang rakus waktu yang
menciptakan kebutuhan hiburan lewat tengah malam ini, Tidak jelas, seperti mana
yang lebih dahulu antara ayam atau telur yang menjawabnya penuh kebingungan.
Begadang
rasanya kurang lengkap apabila tidak di temani segelas kopi dan bahkan dapat
saya katakana bahwa pengikat utamanya untuk kongko – kongko atau nongkrong
hingga subuh hari, warung kopi (warkop) dan Circle K menjadi tempat nongkrong
favorit anak muda masyarakat urban faktor
penting karena tempat tersebut menjadi favorit karena harga makanan dan minuman
terjangkau oleh kantong, sebagaitempat mencari informasi di tempat tersebut dan
di temani laptop juga sebagai ajang silaturahmi antar teman untuk membicarakan
hal mulai dari cerita lucu, nostalgia, politik hingga sosial haanl inilah yang
menyebabkan orang lupa waktu hingga
larut malam bahkan pagi fajar pun mulai benderang seiring naiknya matahari anak
muda belum beranjak dari tempat kita bercengkrama.
Sisi
lain begadang
Penulis
dalam hal ini tentu punya sisi lain
dalam menilai fenomena ini.Terkadang bagi seseorang bangkit kreativitasnya
di kala malam berganti .Biasanya orang begadang bagi kaum tertentu membuat mereka
lebih semangat bekerja, berkarya, berfikir dan berimajinasi di malam hari. Kewajaran
terlihat ketika begadang di sertakan dengan kepulan asap rokok dan secangkir
kopi ,entah itu hitam pekat maupun dari berbagai varian rasa. Kaum kaum seperti
ini cenderung mengandalkan otak kanannya yang bekerja dalam kesehariaanya misalnya
saja penulis dan desainer, mereka adalah sekumpulan makhluk yang memuja malam dalam
mengexplor ide dan bakat terpendam. Salah satu penelitian yang dilakukan psikolog
evolusioner Satoshi Kanazawa dan Kaja Perina, pemimpin redaksi Psychologi Today
,dalam tulisannya “Why Night Owls Are More Intelligent Than Morning
Larks”,rmereka tealah menemukan fakta mengenai ritme Sirkadian (jam biologis)
yang ternyata dapat mempengaruhi IQ seseorang. Dan ternyata orang orang yang
memiliki IQ lebih tinggi adalah mereka yang cenderung lebih aktif di malam
hari.Ini anomaly dan tentu berbenturan keras dengan budaya dan tradisi kita
yang dianjurkan bangun pagi .
Terlepas
dari survey diatas alangkah bijaknya kita agar menyikapi persoalan ini kearah
yang lebih positif. Tentunya menjadi warga dan pribadi yang teladan dengan menyikapi
suatu fenomena ini sebagai mana lumrahnya masyarakat sekitar .Betapa bijak jika
kita hidup teratur dan menjaga pola tidur kita berimbang, resiko bisa
diminimalisir, penyakit pun menghindar .Begadang bisa menjadi sebuah trend yang
memiliki dua sisi mata uang dan perkembangan zaman tidak menutup kemungkinan di
masa mendatang pergeseran pola tidur menjadi semakin jauh seperti yang
diperkirakan. Humor warga yang mengatakan bahwa manusia begadang dianalogikan jadi
dengan hewan malam seperti kalelawar, bergentayangan di malam hari, tidur ayem
di siang hari bisa saja dimaklumi. Penutup kemungkinan lirik lagu oleh bang
haji ada benarnya juga, begadang boleh saja asal ada gunanya , menjadi kewajaran
paling maksimal yang bisa ditolerir oleh kata begadang.
Comments
Post a Comment