Berbicara tentang menagih janji Indonesia kita perlu bahas tentang
apa itu janji yaitu sesuatu yang harus di tepati dan secara makro ke Indonesia
janji-janji kita masih banyak yang belum tercapai mulai dari founding father
kita sampai sekarang, dan apabila ada janji pasti ada yang berjanji dan kepada
siapa kita menagih janji itu?.
Suatu pertanyaan yang menggelitik dan serius kepada setiap insan
anak negeri ini, di sini kita harus sepakat bahwa menagih janji itu bukan saja
pada pemerintah atau rezim yang berkuasa tapi bagaimana janji itu dapat
terealisasi, maka itu stekholder
negeri ini harus bahu membahu untuk menepatinya.
Tak kenal usia tak kenal apa profesi tapi janji ke indonesiaan
kita apakah telah tercapai atau bahkan sama sekali oleh pihak yang berhak untuk
melaksanakananya. Saya tertarik untuk membedah salah satu kitab majapahit yang
merupakan manifestasi Indonesia pada
saat kerajaan itu berdiri dan sampai runtuhnya.
kitab itu bernama astabrata yang berisi 5 pokok pembahasan yang
merupakan representasi kehidupan bermasyarakat kita di Indonesia dan semua isi
kitab itu telah terangkum dalam ideologi bangsa kita yaitu pancasila dan UUD
1945 dan berbicara janji siapa yang paling aktif untuk untuk menunaikan janji
itu biasanya kita di perlihatkan oleh kalangan oposisi.
Orang yang pasif untuk menunaikan janji itu adalah orang yang
menebar janji itu maka problem ke Indonesian kita sampai sekarang belum bisa di
katakana baik karena masalah janji yang di ucap manis oleh yang menebarnya tapi
belum mampu di tepati sampai sekarang.
Salah satu potret yang sangat jelas terlihat pada ketimpangan
Indonesia yaitu wilayah barat dan timur di mana wilayah barat yang menjadi epicentrum kekuasaan negara Indonesia
sangat jelas memiliki keistimewaan daripada wilayah timur.
Pembangunan infrastruktur maupun pembangunan manusianya, apakah
ini di sebut keadilan dan apakah janji itu sudah terlihat maupun sudah
terlaksana yang di sebut distribusi keadilan, kita bukan mencoba mendikotomikan
kedua wilayah yang masih dalam satu negara tapi fakta di lapangan berbicara.
Wilayah barat memang lebih maju daripada timur padahal berbicara
tentang sumber daya alam timur adalah salah satu penyumbang terbesar APBN
negeri kita tapi realita di lapangan berbicara lain pembangunan manusia maupun
infrastrukturnya sangat memprihatingkan.
Janji Indonesia mulai dari sosial,politik,ekonomi, ekologi, budaya
dan lain-lain menurut data dari BAPPENAS di mana produk domestik bruto sangat
jauh dan terlihat timpang dan mulai dari pemasukan kawasan Indonesia barat
menyumbang 80% dan kawasan wilayah barat hanya 20%.
Berbagai faktor yang menyebabkanya mulai dari pembangunan
infrastruktur seperti jalan, pabrik dll, serta eksploitasi alam yang belum terdistribusi
dengan baik serta banyak salah sasaran dan ini hanya yang urgen yang kita harus
tahu bahwa hampir semua perusahaan besar di Indonesia di kuasai asing dan
termaksud Freeport yang menjadi salah satu penyumbang APBN terbesar. Kemiskinan
yang besar di Indonesia sampai sekarang menandakan bahwa negara Indonesia belum
bisa di katakana mampu mensejahterakan rakyat baik sandang, pangan maupun papan, banyaknya perusahaan di Indonesia yang mencari
kehidupan di negeri kita memunculkan konglomerat yang baru yang tak kenal arti
keadilan.
Menurut survei bahwa hanya sekumpulan konglomerat itu
menggabungkan asetnya dia telah mampu menyamai APBN negara kita sekitar 1000
triliun lebih, itukah di sebut keadilan? distribusi ekonomi yang hanya di
kuasai oleh segelintir orang.
Distribusi ekonomi tak di nikmati oleh keseluruhan rakyat, malah
rakyat semakin menderita karena keadilan distribusi ekonomi hanya berkutat pada
orang-orang yang memiliki uang dan sejatinya perlunya pemerintah memberikan
solusi yang bijak dalam melihat masalah ini.
Ketimpangan terjadi seharusnya disikapi oleh pemerintah dengan
serius entah melalui penaikan pajak terhadap kaum berduit itu atau penyerapan
tenaga yang besar-besaran agar kemiskinan berkurang.
Di kota-kota metropolitan kita sering lihat dan miris melihatnya
berjejeran gedung-gedung tinggi di kelilingi rumah kumuh yang berdiri di
pinggir kali, semua itu efek atas tidak mampunya pemerintah memunaikan
janjinya, masyarakat miskin dijadikan komoditas penggusuran demi memenuhi syahwat
para konglomerat yang memiliki kemampuan keuangan.
Apakah ini namanya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia? atau
definisi keadilan itu mulai dibungkam dengan uang ini sungguh miris melihatnya
pemerintah seakan lepas tangan apabila menghadapi para pemilik modal malah
hanya bisa menonton derita masyarakat yang sudah susah.

Janji dan cara penunaianya kadang tidak sesuai ekspektasi kita
yang sering mengarah pada kebaikan malah justru berbanding terbalik karena
berbagai faktor angka kemiskinan semakin tinggi, pengangguran yang terus
bertambah, ketimpangan ekonomi antara si kaya dan si miskin semakin terlihat
dengan kasat mata.
Sumber-sumber daya alam kita yang dikelola oleh perusahaan asing
yang seakan menyensarakan rakyat karena sumbangan pajak terhadat negara indonesia
sangat jauh berbanding tebalik dengan apa yang perusahaah asing itui peroleh di
bumi ibu pertiwi ini.
Kita hanya mendapat dampak buruknya saja terhadap perusahaan asing
itu baik dari kerusakan lingungan maupun dampak lain yang akan kita peroleh
dari dampak berproduksi, terus dimanakah kedaulatan negara kita sebagaibangsa
yang besar?
Terserah masing masing mengartikan kata menagih janji Indonesia
dan kepada siapa kita menagihnya, Karena sebelum janj- janji itu belum memuat
yang termaktum di pembukaan uud 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa
serta dan mensejahterakan rakyat Indonesia.
Maka janji itu belum bisa di tunaikan baik yang membuat janji
maupun komponen bangsa Indonesia lainya, sejatinya rayat sudah sangat lama
menunggu tentang realisasi janji itu atau apakah kita akan menunggu menunggu
1000 tahun lamanya lagi untuk pemerintah yang berkuasa agar menunaikan janji
kemerdeakaan, entahlah.
Kita semua berharap dengan di bangunnya berbagai infrastruktur
berupa jalan yang menghubungkan berbagai wilayah timur Indonesia dapat
memberikan harapan dan kemajuan agar masyarakat Indonesia dapat menikmati
namanya kesejahteraan bukan hanya dilisan setiap pembacaan UUD 1945 di
upacara.
Comments
Post a Comment