Pada tahun 2020
– 2030, Indonesia akan memiliki sekitar 180 juta orang berusia produktif,
sedangkan usia tidak produktif sekitar 80 juta jiwa, atau 10 orang usia
produktif hanya menanggung 3 – 4 orang usia tidak produktif, sehingga akan
terjadi peningkatan tabungan masyarakat dan tabungan nasional, artinya beban
ketergantungan penduduk akan berkurang jikalau dikelola dan dimanfaatkan dengan
baik.
Menurut data BPS
Pertumbuhan penduduk yang tinggi , akan berdampak pada laju pertumbuhan
angkatan kerja yang tinggi juga angkatan kerja bertambah dari sekitar 73,9 juta
orang tahun 1990, menjadi sekitar 96,5 juta pada tahun 2000 dan meningkat lagi
menjadi 144,7 juta pada tahun 2020. Oelh karena itu, memanfaatkan bonus demografi
ini maka pengambil kebijakan perlu memikirkan tatanan mikro yaitu individu
pendududk pada usia produktif.
Beberapa negara
telah merasakan dampak positif memaksimalkan bonus demografi ini. misalnya saja
Negara korea selatan, Thailand, Malaysia dan negara – negara lainnya. Akan
tetapi banyak pula negara – negara yang gagal dalam memaksimalkan bonus
demografi seperti negara – negara yang ada di Benua Afrika sepeti Ethiopia dan
lain sebagainya. Tentunya kita berharap Indonesia mampu mengelola dan memaksimalkan bonus
demografi ini dengan baik.
Besarnya
proposrsi penduduk produktif (rentang usia 15 – 64 tahub) dalam evolusi
kependudukan adalah keuntungan yang dinikmati suatu negara, suatu fenomena
dimana sturktur penduduk sangat menguntungkan dari sisi pembangunan karena
jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sedangkan usia muda semakin kecil
dan proporsi usia lanjut belum banyak artinya perlunya memaksimalkan bonus ini
dengan dengan peni ngkatan mutu anak muda Indonesia.
Bonus demografi
dapat menjadi anugerah dapat juga menjadi bencana bagi bangsa ini, dengan
syarat pemerintah harus menyiapkan generasi muda yang berkualitas tinggi baik
SDM-nya melalui pendidikan, pelatihan, kesehatan penyediaan lapangan kerja dan
investasi, jangan sampai pemerintah gagal menyediakan anak muda yang
berkompeten dan beintegritas dalam menghadapi persoalan globabl karena akan
menjadi bencana.
FENOMENA ANAK ZAMAN NOW
Fenomena geng
remaja akhir – akhir ini menjadi buah bibir masyarakat Indonesia. Bagaimana
tidak? Geng remaja yang ada, banyak melakukan aksi- aksi yang merugikan dan
meresahkan masyarakat. Aksi yang mereka lakukan seperti aksi kebut – kebutan di
jalanan menggunakan motor, pemalakan pencurian, nongkrong di pinggir jalan
hingga larut malam dll. Ini sangat ironi bagi masa depan generasi muda kita
apabila kita tidak mampu mencegah dan membimbingnya.
Geng motor saat
ini saat ini tidak hanya melakukan tindakan kekerasan, namun para remaja yang
usianya baru belasan tahun bahkan dengan tega dan berani, melakukan pembunuhan
bagi korbanya yang melawan demi sebuah kata eksistensi agar muda di kenal. Di
Kota besar pada umumnya geng motor seperti monster jalanan yang siap datang
kapan dan dimana saja dengan jumlah yang banyak dan melakukan tindakan
kriminalitas jalanan.
Dengan berbagai
kejadian yang ada muncul pertanyaan. Mengapa remaja dapat terlibat dalam kasus
kenakalan dan tindak kekerasan? Karena remaja merupakan masa transisi dari masa
anak – anak menuju dewasa dimana dia mulai aktif berinteraksi dan mulai mencerna
nilai-nilai. Nilai yang di dapat di keluarga dan nilai-nilai baru dari
lingkungan luar seperti sosial, sekolah dll menyebabkan anak mengalami kondisi
yang tidak seimbang dan menggantung.
Begitu banyaknya
perilaku kenakalan dan kriminalitas remaja tersebut tentunya membuat kita
seemua khawatir, menurut Indonesia Police Watch (IPW) tahun 2014 terdapat 38
kasus geng motor mengakibatkan 28 orang tewas dan 24 orang tewas. Menurut
Santrock (1995) kenakalan remaja sendiri mengacu padaa pada rentang perilaku
yang luas mulai dari pelaku yang idak dapat di terima secara sosial seperti
pelanggaran di sekolah, di rumah hingga perbuatan kriminal.
MEMAKSIMALKAN BONUS DEMOGRAFI
Generasi muda
adalah generasi penerus bangsa pelanjur estafet kepemimpinan ketika anak muda
kita hancur maka yakin dan percaya bahwa bangsa ini juga bisa hancue dan
menjadi negara maju itu hanya ilusi semata maka dari itu, tindakaan preventif
dan mengayomi anak dalam membentuk akhlak yang baik di perlukan demi
meminimalisir pengaruh nilai-nilai dari lingkungan luar keluarga anak yang
membentuk kepribadinaya kelak.
Kuantitas
penduduk Indonesia mengalami bonus demografi sudah tidak dapat di tawar lagi,
dari segi jumlah bahkan terbesar di Asia Tenggara tapi apalah arti ketika
kuantitas tidak diimbangi dengan kualitas baik tentu akan menimbulkan polemik
saja. Oleh karena itu perlunya pendidikan yang berkualitas serta merata di
seluruh Indonesia demi meningkatkan skil dan pengetahuan demi bersaing secara
global dengan negara lain
Perekonomian
yang baik di Indonesia juga dengan mudah akan meningkatkan pendapatan
masyarakat sebaliknya ekonomi yang buruk akan menjadikan masyarakat Indonesia
menjadi tamu di negeri sendiri dan itu kita tidak inginkan. Dan satu yang harus
di perhatikan yaitu menciptakan anak muda yang sehat tanpa rokok, narkoba dan
minum keras karena dapat mempengaruhi penurunan angka kerja yang dulunya usia
produktif menjadi tidak produktif.
Comments
Post a Comment