Pilkada
serentak tak akan lama lagi di gelar tinggal mengitung bulan saja kita akan menyaksikan
pesta demokrasi dan pemilihan pemimpin lima tahun kedepan, sebagai salah satu negara
demokrasi preferensi politik nantinya akan di uji sebagai sebagai repsentasi
pemilih berdasarkan faktor kualitas calon, faktor kekutan finansial, pertaruhan
nama pam ayah yang dulu menjadi mantan bupati sebelumnya, entahlah.
Saya
tertarik dengan sebuah peribahasa yang mengatakan “buah jatuh tak jauh dari
pohonya”, mungkin inilah penggambaran kontestasi bakal calon-calon pemimpin
kabupaten sinjai kedepanya dimana akan diisi oleh para pemimpin yang tak bisa
lepas dari nama sucsessor sebelumnya entah pada sifat atau leadership nya dan
akan tergantung pada sudut pandang pemilih melihatnya.
Bakal
calon bupati sinjai yang di gadang gadang dan sudah hampir fix akan bertarung yaitu
pasangan Takyuddin Masse dan Mizar Roem, dan Andi Seto Ghadista Asapa dan Andi
Kartini, pertarungan antara Mizar Roem dan Andi seto sebagai putra mahkota
mantan bupati sinjai yang masih memiliki kedekatan emosional dan sebaran massa
yang masih jelas walau tak lagi menjadi orang nomor satu di sinjai.
Siapa
yang tak kenal H.M.Roem dan Andi Rudiyanto
Asapa keduanya bupati dua periode sinjai dan sebagai tokoh politik di Sul-Sel
keduanaya memiliki prestasi tersendiri masing-masing baik di kancah politik
maupun pemerintahan yang tak dapat di pungkiri, semenjak meninggalakan tampuk
kekuasaan nya masing-masih yang di jabatnya dua periode mereka kembali pada
rutinitas awalnya yaitu sebagai politisi maupun pengacara.
Perbincangan
hangat di kedai dan warung kopi (warkop) sering kali membincangkan keduanya
sebagai tema pembicaraan, yaitu pemimpin muda yang memiliki masa depan yang
cerah namun ada juga hal-hal yang berbau pesimis meilhat keduanya entah itu
dari pengalaman memimpin birokrasi, di tengah perbincangan itu ada celetukan
yang mengatakan apakah ia hanya mengendalkan nama pam ayahnya sebagai mantan
bupati sinjai sebagai jualan politik?.
Treck
record keduanya masih tak bisa lekas di lupakan begitu saja dan masih membekas
di kepala masyarakat sinjai dengan berbagai
kemajuan, prestasi dan pembangunan yang bermanfaat bagi masyarakat banyak, tak
akan di lupakan contohnya apabila kita berkunjung ke pelosok-pelosok di sinjai
berbagai komentar positif yang di berikan masyarakat sebagai wujud respect atas
hasil kinerjanya dan pasti akan selau apple to apple dengan yang akan di lakukan
putranya.
Kedua
mantan bupati sinjai seharusnya lebih membebaskan anaknya percaya diri
tampil sebagai individu yang memiliki
kemampuan yang dia miliki entah dia dapat dari lahir atau saat dia dapat dalam
proses di organisasi, bukan menekannya sana sini sehingga pikiran mereka campur
aduk boleh member wejangan sekali-kali sebagai bentuk tugas orang tua kepada
anaknya dilihat dari segi pengalaman dan kematangan dalam segala hal.
Politik
identitas selalu melahirkan konotasi negatif tapi itu tak salah selamat
kualitas yang dimiliki sesuai harapan dan janji kampanye nanti, masyarakat
sekarang mulai bisa memilah dan memilih sesuai sudurt pandang dan aviliasi
politik mereka sendiri, politik gagasan sekarang menjadi role model dalam
mencerdaskan masyarakat dengan menawarkan berbagai solusi yang di tawarkan
kepada masyarakat atas`permasalah yang terjadi di kabupaten sinjai.
Sudah
saatnya masyarakat sekarang harus lebih mawas diri terhadap segala bentuk
jargon-jargon yang lebih menonjolkan sesuatu pada suatu aspek yang epicentrumnya tak jauh-jauh dari siapa
nama belakang calon, tapi perlunya pemilih lebih paham akan gagasan yang akan
di jual nanti dikampanye dan langsung mengeksekusinya, bukan memilihnya karena
ada apanya dan banyak apanya agar pendidikan politik kita lebih tercerdaskan
dari hal-hal yang pragmatis.
Comments
Post a Comment